Mahasiswa Mankom Menoreh Prestasi di Reaksi UPN Veteran Yogyakarta

Ketiga Mahasiswa Universitas Padjadjaran (UNPAD) Program Studi Manajemen Komunikasi berhasil menorehkan prestasi di ajang Prakasita Reaksi UPN Veteran Yogyakarta. Mereka adalah Mita Maudina (2018), Genesia Whisnu (2018), dan Afi Indraswari (2019) yang tergabung dalam tim Doa Ibu. 

Prakasita atau singkatan dari Perlombaan Kreativitas Humas Yogyakarta merupakan lomba bidang hubungan masyarakat yang dikhususkan untuk mahasiswa se-Pulau Jawa. Dalam lomba ini, tiap kelompok peserta diminta untuk berperan sebagai public relation sebuah perusahaan. Lomba Prakasita meminta pesertanya untuk berperan menjadi public relation yang mampu menjaga dan membentuk citra positif organisasi di mata publik melalui sebuah studi kasus.  Penyelenggara membebaskan tiap peserta untuk memilih satu dari tiga topik studi kasus, diantaranya adalah komunikasi pemerintahan dalam penanggulangan Covid-19, tantangan peningkatan brand awareness pada UMKM melalui digitalisasi, atau transformasi gerakan perubahan sosial di ruang digital melalui media.

Mengusung gerakan menciptakan ruang aman bagi perempuan 

Dalam perlombaan ini Mita, Genesha, dan Afi memutuskan untuk memperdalam topik transformasi gerakan perubahan sosial di ruang digital melalui media. Dalam proses pencarian data, ketiganya menemukan bahwa kasus kekerasan berbasis gender online (KGBO) mengalami peningkatan drastis. Fakta ini mendorong mereka untuk membuat program CSR (Corporate Social Responsibility) yang dapat diselenggarakan oleh salah satu brand sepatu internasional.

Pemilihan brand tersebut bukan tanpa alasan, Tim Doa Ibu menuturkan pemilihan brand berdasarkan pada kesamaan visi dan misi brand dengan tujuan tim Doa Ibu. Brand sepatu yang dipilih merupakan brand yang memiliki semangat kuat menjunjung tinggi kebebasan bagi semua orang. Dalam kasus ini, Tim Doa Ibu ingin brand dapat membantu terciptanya kebebasan di dunia digital untuk mengurangi kekerasan berbasis gender online. 

Program yang tim Doa Ibu rancang diberikan nama ‘Fight For It: Brave, Break, Believe’. Program ini diharapkan dapat membantu perusahaan mengedukasi, mencegah, serta memberikan perlindungan dan pendampingan bagi perempuan Indonesia. Tim Doa Ibu sangat ingin mewujudkan ruang aman di dunia digital bagi tiap perempuan.  

Perencanaan ini disusun dalam proposal kreatif dan deck presentasi yang singkat dan informatif. Tim Doa Ibu juga melakukan persiapan mental dan fisik yang baik agar mampu meyakinkan juri mengenai perencanaan yang sudah mereka susun. Segala persiapan dan perjuangan ini berhasil membawa mereka menjadi peraih juara tiga.

Rupanya inovasi yang baik saja tidak cukup. Kita, sebagai peserta, juga harus mengomunikasikannya dengan baik. Dengan begitu orang lain atau juri dapat mengerti bahkan menyukai dan mendukung inovasi kita.

Tim Doa Ibu berhasil menghadapi hambatan besar

Menurut Afi, salah satu anggota, persiapan perlombaan ini bukan tanpa hambatan dan tantangan. Ketiga anggota Tim Doa Ibu merupakan mahasiswa yang memiliki segudang kegiatan diluar aktivitas akademik. Hal ini membuat mereka sering kesulitan menentukan waktu temu untuk membahas perencanaan ‘Fight For It’.

Dalam menghadapi hambatan dan tantangan tersebut, Afi menuturkan pentingnya disiplin dan keseimbangan sifat tiap anggota dalam kelompok lomba. 

“Disiplin, tiap hari kerkom dan harus ada perkembangan. Waktu kerja kelompok juga harus fokus. Susahnya pas bagian aku sama Kak genes sih, soalnya kita suka bercanda. Untungnya ada Kak Mita yang tegas”, tutur Afi.

Kolaborasi Mita, Genesha, dan Afi tidak lepas dari manfaat jejaring yang mereka dapatkan semasa aktif di berbagai kegiatan organisasi dan kepanitiaan. Rupaya ketiganya telah kenal dekat satu sama lain sejak berada dalam kegiatan yang sama. 

“Aku dan Kak Mita udah kenal dari jaman konseptor Intro (kegiatan orientasi jurusan yang diadakan oleh Program Studi Manajemen Komunikasi) 2020. Sedangkan kalo sama Kak Genes udah dari jaman Communication Growth Lab (salah satu organisasi di lingkungan kampus). Waktu itu sih, tiba-tiba diajakin lomba sama mereka. Aku ikut deh.”, tutur Afi.    

Dari perjalanan Tim Doa Ibu, dapat disimpulkan bahwa ketika mengikuti suatu perlombaan, penting untuk tidak menyepelekan hal-hal seperti : berfokus untuk memenuhi permintaan dari lomba itu sendiri, disiplin saat berdiskusi, dan menyusun tim yang cocok.

Perjuangan Tim Doa Ibu  untuk meraih juara tiga ternyata tidak disiapkan dalam satu dua hari saja. Bermula dari pertemuan dari satu kegiatan yang sama dan dilanjutkan dengan persiapan yang matang serta tekad yang kuat lah yang menghantarkan mereka ke prestasi yang membanggakan. 

Maka dari itu, sebagai mahasiswa sebaiknya kita tidak menutup diri dan selalu memaksimalkan kesempatan yang ada. Lantas, darimana kamu akan mulai menyiapkan prestasimu?

Share this: