Mahasiswa Manajemen Komunikasi Berhasil Meraih Juara 3 Lomba Baca Puisi Putra

Sastra kini bukan menjadi favorit banyak orang, apalagi pemuda. Irham Armansyah membuktikan bahwa  sastra masih digemari oleh kalangan pemuda. Irham Armansya mahasiswa Manajemen Komunikasi Universitas Padjadjaran berhasil membawa pulang juara 3 baca puisi putra dari lomba Seni Sastra Universitas Brawijaya yang diselenggarakan pada bulan September lalu. Acara yang diselenggarakan secara online ini diikuti oleh banyak peserta dari seluruh Indonesia. Tema yang diambil adalah pandemi dan perjuangan.

Informasi mengenai perlombaan kini memang banyak tersebar di sosial media, maka bagi Irham sebagai generasi muda dengan mudah mendapatkan informasi mengenai perlombaan yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya ini. Dengan mengikuti lomba baca puisi Irham membagikan kisahnya dari awal perjalanan hingga akhirnya menjadi juara.

“Berawal dari info lomba di salah satu platform lomba bahasa dan sastra, aku pelajari informasi nya dan ternyata lomba yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya ini sangat menarik dan sesuai dengan passion yang aku punya di bidang sastra” ujar Irham pada Kamis (18/11/2021)

Seni dan sastra mungkin sekarang bukan menjadi sesuatu yang istimewa bagi kalangan pemuda. Tapi dalam lomba Seni Sastra yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya ini menjadi bukti bahwa masih banyak pemuda yang kegemaran dan minatnya berada di seni an sastra. Seperti lomba baca Puisi Putra yang diikuti oleh Irham, terdapat hampir 100 orang peserta dari seluruh Universitas yang ada di Indonesia. 

“Aku memutuskan untuk daftar lomba membaca puisi, karena memang dari dulu aku sangat suka membaca puisi. Kemudian aku mulai mempelajari puisi – puisi yang memang harus aku bacakan” ujar Irham.

Meskipun hanya membacakan saja, tapi membaca puisi tentu sangat berbeda. Membaca puisi perlu memiliki teknik – teknik tertentu agar pesannya dapat tersampaikan dengan baik, pembaca puisi harus dapat mengisi ‘nyawa’ pada puisi yang dibacakannya itulah kenapa Irham butuh mempelajari puisi – puisi sebelum ikut dalam perlombaan. 

“Kebetulan puisinya dalam tema pandemi dan perjuangan. Puisi – puisi itu sangat aku banget, maksudnya aku banget itu karena aku melihat potensi aku dalam membacakan puisi itu lebih ke arah puisi yang menggebu – gebu, kemudian setelah aku memilah akhirnya aku masuk kedalam tahapan pendalaman puisi. Selama beberapa hari aku memahami baris per baris puisi yang ada untuk melihat apa maksud penulis puisi untuk disampaikan” tambahnya.

Pandemi bukan jadi penghalang bagi penyelanggara lomba maupun dari peserta, covid-19 justru menjadi motivasi mereka untuk terus berprestasi dengan tidak memandang suatu keadaan sebagai hambatan. Irham menjadikan ini sebagai kesempatanya untuk berkreasi dengan menggunakan kreativitasnya dalam mengemas video yang menjadi bahan untuk lomba. Video tersebut nantinya diunggah pada form pendaftaran. 

“Karena lombanya online, aku jadi harus submit video puisi itu kedalam form pendaftaran. Aku tapping video nya kurang lebih membutuhkan waktu sekitar 5 jam, karena harus melakukan setting ruangan dan segala macamnya” ujar Irham. 

Tetapi ternyata selain adanya hambatan yang Irham alami dalam melakukan take video yang hampir menghabiskan waktu selama 5 jam, Irham juga mengalami hambatan lainnya seperti pendalaman naskah hingga sewa studio. Irham melakukan hal tersebut tentunya karena ingin hasil yang baik, dan terbukti usahanya itu membuahkan hasil. 

“Selain take video hampir 5 jam, belajar mendalami naskah sama biaya buat tapping hahaha, kalo mendalami itu sebenernya gak cukup 1 minggu, biasanya kalo lomba itu paling lambat 2 minggu aku mempersiapkan buat reading, dll. Kalo biaya itu karena aku sewa studio sama bayar cameraman jadi agak sedikit berat, tapi tetap santai kok” tambahnya

Salah satu puisi yang Irham bacakan adalah dari penulis Ahmadun Yosi Herfanda yang berjudul “Kau Datang Tanpa Mengetuk Pintu”, Irham melakuakn rekaman video dengan sekali pengambilan video, dan video tersebut tidak boleh menggunakan rekaman suara. Meskipun terlihat sulit, tapi sastra memiliki tempat tersendiri bagi pecintanya. Irham ingin menggunakan kemampuannya dalam membacakan puisi dan dikemas dengan baik agar dapat menujukkan bahwa sastra kini masih memiliki peran untuk dapat menyampaikan pesan dengan caranya sendiri.

Share this: