Mental Baja, Medali Dunia: Cerita Salsabila dari Garasi Hingga Mahardika


Salsabila Rihhadatul’aisy, mahasiswa Program Studi Manajemen Komunikasi Universitas Padjadjara

Salsabila Rihhadatul’aisy Amrullah, mahasiswa Program Studi Manajemen Komunikasi Universitas Padjadjaran, meraih medali dunia di ajang karate internasional. Simak kisah perjuangannya dari garasi rumah hingga panggung dunia.

Salsabila Rihhadatul’aisy Amrullah, mahasiswa Program Studi Manajemen Komunikasi Universitas Padjadjaran angkatan 2025, baru saja menambah koleksi medali internasionalnya. Di ajang Sebelas Maret International Karate Open Championship 2025, ia meraih Juara 3 Kata Beregu Senior Putri. Sebelumnya, di International Open Tournament Kei Shin Kan 2024, ia pulang dengan gelar Best of The Best Female Athlete. Namun di balik gemerlap piala dan medali, ada kisah panjang tentang jatuh bangun, vakum setahun, dan pelajaran hidup yang tak ternilai.

Salsabila Rihhadatul’aisy Amrullah tumbuh di antara suara tendangan dan teriakan semangat. Sejak kecil, garasi rumahnya bukanlah sekadar tempat parkir mobil, melainkan arena latihan karate para juara. Ayahnya, seorang pelatih sekaligus mantan atlet, sering membawa pulang murid-murid hebatnya untuk berlatih. Salsabila kecil hanya duduk di sudut, mengamati. Lalu pada suatu hari, tanpa diminta, ia mulai menirukan gerakan-gerakan kecil yang sering ia lihat.

Ayahnya melihat sesuatu di balik rasa penasarannya, yaitu potensi. Maka dimulailah perjalanan panjang yang hingga kini telah memasuki tahun ke-15. Bukan sekadar ikut-ikutan, Salsabila tumbuh menjadi atlet karate yang namanya tercatat di berbagai kejuaraan, dari tingkat provinsi hingga internasional.

Kini, di usianya yang masih muda, ia sudah mengoleksi puluhan prestasi. Terbaru, di Sebelas Maret International Karate Open Championship 2025, ia berhasil meraih medali perunggu untuk kategori Kata Beregu Senior Putri. Tak hanya itu, namanya juga tercatat sebagai Best of The Best Female Athlete di International Open Tournament Kei Shin Kan 2024. Sebuah pencapaian yang membanggakan, terlebih bagi seorang mahasiswa yang baru menginjak semester awal di Program Studi Manajemen Komunikasi Universitas Padjadjaran.

Sosok di Balik Setiap Tendangan

Pada umumnya, kebanyakan atlet akan menyebutkan nama-nama besar di dunia sebagai sosok inspirasinya. Tidak dengan Salsabila. Baginya, motivasi terbesar justru berada di rumahnya: ayahnya sendiri.

“Orang yang bikin motivasiku makin besar justru bukan atlet-atlet dunia yang namanya sudah besar di sana, tapi sesederhana semangat dan kasih sayang yang papaku kasih untuk support karier aku di karate,” ujarnya.

Sang ayah tidak hanya melatih teknik, tapi juga mengatur pola tidur, pola makan, hingga jadwal latihan. Ada titik-titik lelah dalam proses itu, namun setiap kali Salsabila melihat pengorbanan diam-diam sang ayah, semangatnya kembali menyala. Dukungan itu pula yang kelak membantunya melewati masa paling kelam dalam kariernya.

Empat Pelajaran Hidup dari Karate

Menekuni karate secara serius selama hampir separuh hidupnya memberikan Salsabila lebih dari sekadar piala. Ada empat nilai utama yang ia petik.

Pertama, disiplin. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan rutinitas harian yang padat dan kaku. Tidak banyak ruang untuk bermalas-malasan. “Dari kecil mau gak mau aku harus terbiasa sama jadwal harian yang saklek dan padat banget,” kenangnya.

Kedua, kesabaran. Di usia belia, ketika anak-anak lain sibuk bermain dan bersosialisasi bebas, Salsabila kecil harus fokus pada tujuannya yang lebih jelas. “Tiap pulang sekolah aku jarang banget main dan bersosialisasi bebas, dan di sini aku merasa kesabaranku teruji banget.”

Ketiga, manajemen waktu. Ini yang paling krusial. Antara latihan, sekolah, tugas, dan istirahat, semuanya harus diatur seimbang agar tidak saling bertabrakan. “Aku harus bisa mengatur semua kegiatanku agar berjalan sesuai rencana, supaya gak saling mengganggu satu sama lain, misalnya antara jadwal latihan dan tugas sekolah.”

Namun nilai utama yang ia junjung adalah mental. “Tanpa kesiapan mental dari diri aku sendiri, aku gak akan mungkin bisa maju dan bertahan sampai sejauh ini. Di balik semua pencapaian prestasi yang manis, tentunya ada jutaan cerita perjuangan yang bisa aku lewati dengan bekal mental yang sudah dipersiapkan.”

Deretan Prestasi dari Provinsi ke Panggung Dunia

Tiga tahun terakhir saja, Salsabila telah mengoleksi puluhan prestasi. Di tingkat provinsi, ia menjadi juara di berbagai arena, seperti Sirkuit I Jawa Barat 2023, O2SN SMA Tingkat Kota dan Provinsi Jawa Barat 2024, Sirkuit II Jawa Barat Cirebon Open Karate Championship 2024, Bandung Open Championship 2024, serta BK PORPROV II dan III Jawa Barat 2025.

Di tingkat nasional, ia meraih Juara 2 Kata Kadet Putri di Kejuaraan Nasional PB FORKI 2023, Juara 1 Kata Junior Putri di Piala Dankodiklat TNI AD 2024, Juara 2 Kata Junior Putri di Piala Kepala Kejaksaan Tinggi 2024, serta Juara 3 Kata Senior Putri di Kejuaraan Nasional YOT V 2025.

Sementara di kancah internasional, namanya melambung lewat gelar Best of The Best Female Athlete di International Open Tournament Kei Shin Kan 2024, Juara 1 Kata Junior Putri di ajang yang sama, Juara 2 Kata Individual Female U17 di 2nd Silent Knight International Virtual Kata Championship 2023, Juara 1 Kata Kadet Beregu Putri di Piala Raja Karate International Open Championship 2023, serta Juara 3 Kata Beregu Senior Putri di Sebelas Maret International Karate Open Championship 2025.

Prestasi-prestasi itu tidak datang dengan mudah. Semuanya lahir dari keringat, air mata, dan sesak napas karena Salsabila juga berjuang dengan kondisi asma yang kerap kambuh di saat kritis. “Ada momen di mana asma aku tiba-tiba kumat berat H-2 tanding saat posisi sudah pemusatan atlet dan aku harus tetap profesional menjalankan tugas sebagai atlet. Setiap beres pertandingan babak 1, 2, 3, dst aku bolak-balik medis buat minta oksigen.”

Jatuh dan Bangkit Setelah Vakum Satu Tahun

Perjalanan Salsabila tidak selalu mulus. Ada satu masa di mana ia menghilang dari panggung pertandingan. Bukan karena cedera fisik, melainkan karena kelelahan mental. Dunia karate yang ia cintai ternyata juga memiliki sisi gelap: ambisi yang tidak sehat, permainan di belakang layar, dan tekanan dari orang-orang berkepentingan. Semuanya terasa seperti racun yang perlahan menggerogoti dirinya. Salsabila dan ayahnya mengambil keputusan besar dengan menarik diri. Vakum selama satu tahun penuh untuk menyembuhkan luka yang tidak terlihat.

Pada tahun 2024, ia memutuskan untuk kembali. Pertandingan comeback-nya digelar di 3rd Dasril Muchtar Cup International Open & Festival. Tanpa ekspektasi tinggi, ia justru pulang dengan medali perak dan poin yang sangat memuaskan.

“Yang paling memorable buat saat ini sih ketika pertandingan 3rd Dasril Muchtar Cup International Open & Festival 2024 di mana itu adalah tahun pertama lagi aku terjun bertanding di kelas individual setelah sebelumnya aku off total selama 1 tahun,” kenangnya.

Bukan emas, tetapi bagi Salsabila, medali itu adalah bukti bahwa ia masih bisa berdiri. Bahwa vakum bukanlah akhir, melainkan waktu untuk memulihkan diri sebelum bangkit lebih kuat lagi. Itu adalah momen paling berkesan dalam perjuangannya sejauh ini.

Menjaga Konsistensi di Antara Dua Dunia

Di luar matras, Salsabila adalah mahasiswa Program Studi Manajemen Komunikasi Universitas Padjadjaran angkatan 2025. Dua dunia ini, yaitu kampus dan karate, sama-sama menuntut waktu dan energi. Apalagi di usia mahasiswa yang seharusnya bebas eksplorasi dan bergaul, ia harus punya batasan yang tegas.

“Komitmen dan mental! Tanpa kedua itu semuanya bakal berantakan sih,” tegasnya. “Apalagi di usia kita sebagai mahasiswa yang mungkin jiwanya itu lagi remaja-remajanya banget yang senang explore dan main bareng teman-teman, komitmen itu bakal berfungsi untuk membatasi diri.”

Komitmen membantunya memilah mana yang penting untuk diikuti dan mana yang bisa ditinggalkan. Sementara mental membuatnya tetap profesional, bahkan ketika asma kambuh di tengah pertandingan. Ia teringat bagaimana harus bolak-balik ke tim medis untuk meminta oksigen di sela-sela babak, lalu turun lagi, bertanding lagi, dan kembali lagi ke ruang medis. Namun, semua itu tidak membuatnya gentar. Baginya, itu adalah bagian dari proses menjadi atlet sejati.

Mimpi Timnas dan Kancah Internasional

Mimpi Salsabila belum selesai. Target terbesarnya adalah menamatkan karier atlet sampai titik darah penghabisan.

“Aku ingin menamatkan jejak karier atlet aku sampai titik darah penghabisan. Jadi atlet timnas karate tetap, lalu bermain di banyak event resmi dan melebarkan sayap di kancah internasional,” ujarnya.

Di luar karate, ia juga sedang membangun jati diri di bidang lain. Public speaking dan leadership menjadi minat barunya. Salah satu langkah konkret yang ia ambil adalah menjadi delegasi Program Studi Manajemen Komunikasi di Putra-Putri Fikom (PPF) dan mendapatkan gelar “Putri Favorit.” Ia ingin membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar atlet.

Pesan untuk Mahasiswa yang Ingin Berprestasi

Salsabila hanya punya satu pesan: “Jangan FOMO (Fear of Missing Out) and focus on your destination. Meskipun jalannya bisa bervariasi, tapi kita harus selalu on the track.”

Karena pada akhirnya, semua usaha akan terbayar. Dan pelajaran hidup yang paling berharga justru sering ditemukan di luar ruang kelas, di matras, di lapangan, di tengah lelah dan air mata yang tidak dilihat banyak orang.

Dari garasi rumah hingga panggung dunia, dari masa vakum hingga comeback gemilang, Salsabila Rihhadatul’aisy Amrullah telah membuktikan bahwa dengan mental baja, dukungan keluarga, dan komitmen yang kuat, mimpi setinggi apa pun dapat diraih. Perjalanannya masih panjang, dan dunia karate serta kampus akan terus menyaksikan bagaimana gadis Bandung ini melangkah lebih jauh.

Penulis : Alikha Shauma Meurila

Share this: